I may not do it right
Or say it loud
But hey,
Hear me now
I Love You
Yes, you!
I can repeat it million times
I love you
I love you
I love you
You!
L I F E is a wonder, a place full of surprises and magic... Count your blessing and be thankful
Tuesday, November 9, 2010
Waktunya Bangun!
Entah kenapa, saya merasa tahun ini tingkat keceriaan saya ada pada titik yang cukup rendah. Beberapa keinginan dan harapan yang belum juga menunjukkan tanda-tanda pencapaian berulang kali muncul dan menggoyah keceriaan saya dalam menatap hidup. Sungguh sebuah penyebab yang sangat tidak pintar (kalau tidak mau disebut sangat bodoh).
Keadaan yang statis ini merupakan buah hasil karya saya sendiri yang tentu saja lebih sering mengerti dan tahu tapi juga tidak berbuat apa-apa. Ketakutan itu kadang terlalu membelenggu langkah saya untuk memulai sesuatu yang baru. Padahal saat ini pun saya tidak berada dalam zona nyaman yang (menurut saya) ideal.
Setelah proses tanya jawab berulang, saya berhasil menemukan hal yang terasa demikian menarik dan menimbulkan kesenangan dalam melakukannya. Kesenangan itu entah kenapa terasa hambar segera setelah saya membuat target dan rencana kedepan untuk meluaskan jalan. Sekali lagi, ketakutan dan kekhawatiran telah membelenggu langkah dan kreasi hati saya.
Ketakutan akan kegagalan.
Kalimat di atas bagai momok yang menghantui setiap langkah dan keputusan yang harus saya ambil dalam kelokan peristiwa dan lengkungan tanya yang tiada henti hadir.
Lalu kenapa kalau memang gagal?
Dunia toh tak akan runtuh dan menimpa kita kan?
Lalu kenapa kalau harus gagal, lagi dan lagi?
Jleb! Kalimat di atas seolah menampar pipi saya bolakbalik dan menghadapkan nyawa saya kembali pada sebuah kenyataan.
Sudah waktunya saya kembali betul-betul menata hidup. Menerapkan segala teori kehidupan yang lekat di otak tapi tak terwujud dalam sikap.
Mengutip dari sini; hidup yang sekali ini digunakan sebaik mungkin, kita tinggalkan banyak jejak kebaikan bagi sekitar, dan pada saat meninggal nanti kita akan tersenyum sedangkan orang-orang di sekitar menangis karena kehilangan.
Keadaan yang statis ini merupakan buah hasil karya saya sendiri yang tentu saja lebih sering mengerti dan tahu tapi juga tidak berbuat apa-apa. Ketakutan itu kadang terlalu membelenggu langkah saya untuk memulai sesuatu yang baru. Padahal saat ini pun saya tidak berada dalam zona nyaman yang (menurut saya) ideal.
Setelah proses tanya jawab berulang, saya berhasil menemukan hal yang terasa demikian menarik dan menimbulkan kesenangan dalam melakukannya. Kesenangan itu entah kenapa terasa hambar segera setelah saya membuat target dan rencana kedepan untuk meluaskan jalan. Sekali lagi, ketakutan dan kekhawatiran telah membelenggu langkah dan kreasi hati saya.
Ketakutan akan kegagalan.
Kalimat di atas bagai momok yang menghantui setiap langkah dan keputusan yang harus saya ambil dalam kelokan peristiwa dan lengkungan tanya yang tiada henti hadir.
Lalu kenapa kalau memang gagal?
Dunia toh tak akan runtuh dan menimpa kita kan?
Lalu kenapa kalau harus gagal, lagi dan lagi?
Michael Jordan, "I can accept failure, but I can't accept not trying".
Jleb! Kalimat di atas seolah menampar pipi saya bolakbalik dan menghadapkan nyawa saya kembali pada sebuah kenyataan.
Sudah waktunya saya kembali betul-betul menata hidup. Menerapkan segala teori kehidupan yang lekat di otak tapi tak terwujud dalam sikap.
Mengutip dari sini; hidup yang sekali ini digunakan sebaik mungkin, kita tinggalkan banyak jejak kebaikan bagi sekitar, dan pada saat meninggal nanti kita akan tersenyum sedangkan orang-orang di sekitar menangis karena kehilangan.
Doa Setelah Shalat Dhuha
Ya Allah, bahwasanya waktu Dhuha itu adalah waktu Dhuha-Mu, kecantikan ialah kecantikan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, dan perlindungan itu, perlindungan-Mu.
Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh.
Sunday, November 7, 2010
aahhh kamu...!
Menepiku dari deru nafas kota
Hingarbingar
Terangbenderang
Riuhramai
Ketka banyak mata terpejam
Dingin menggigit
Sepi memeluk
Kamupun hadir
Matamu yang menatap lembut
Deretan kata tertutur rapi
Hangat tubuhmu
Bahkan harum khas itupun menggelitik
Bersama doa sebelum tidur
Seulas senyum ku saji
Selamat malam sayang
Selamat datang dalam mimpi
Hingarbingar
Terangbenderang
Riuhramai
Ketka banyak mata terpejam
Dingin menggigit
Sepi memeluk
Kamupun hadir
Matamu yang menatap lembut
Deretan kata tertutur rapi
Hangat tubuhmu
Bahkan harum khas itupun menggelitik
Bersama doa sebelum tidur
Seulas senyum ku saji
Selamat malam sayang
Selamat datang dalam mimpi
ilusi
Waktu masih saja menjadi batas ilusi
Antara nyata dan harap
Dan kamu masih saja hadir
Dalam khayal dan fakta
Mereka bilang waktu akan menyembuhkan luka
Tapi waktu belum berteman denganku
Ia masih tegak bersikukuh
Bersisian dengan luka, berhadapan denganku
Prasangka sejujur apa yang harus ku saji sebagai penawar termanis agar alam bersekutu
Mendengar segala bisik pintaku
Prasangka macam apa yang harus ku tawarkan pada penguasa semesta
Agar mewujud seperti inginku
Kutulis lagi namamu
Yang hilang tersapu ombak
Dan
Kutulis lagi namamu
Yang hilang tersapu ombak
Antara nyata dan harap
Dan kamu masih saja hadir
Dalam khayal dan fakta
Mereka bilang waktu akan menyembuhkan luka
Tapi waktu belum berteman denganku
Ia masih tegak bersikukuh
Bersisian dengan luka, berhadapan denganku
Prasangka sejujur apa yang harus ku saji sebagai penawar termanis agar alam bersekutu
Mendengar segala bisik pintaku
Prasangka macam apa yang harus ku tawarkan pada penguasa semesta
Agar mewujud seperti inginku
Kutulis lagi namamu
Yang hilang tersapu ombak
Dan
Kutulis lagi namamu
Yang hilang tersapu ombak
Subscribe to:
Posts (Atom)