Wednesday, January 27, 2010

sungguhsungguh

skuat hati menahan diri
gemetar tubuh menahan rasa
akhirnya terucap sudah, satu kata berjuta makna

aku
jenuh
sungguh

thru the ups and downs...

Seiring dengan bertambahnya usia, persahabatan pun bertambah dewasa. Kebutuhan kta akan teman dan penjabaran akan makna persahabatan pun bergeser kepada pemahaman dan pemikiran yg jauh lbh mendalam. Kalimat 'a friend in need is a friend indeed' pun mendewasakan diri dalam kehidupan dan alam pikiran kita.

Pd masa yg lalu, saya menjadikan diri saya selalu berada pd titik tegas, hitam atau putih. Saya tdk mengenal abu2. Sulit untuk saya melihat alasan atau pembenaran yg mungkin ada di setiap abu2 yg hadir dlm sisi kehidupan di sekeliling saya. Hitam dan putih adalah mutlak.

Kemudian peristiwa hidup mengajarkan bahwa abu2 akan selalu ada dan bahkan seringkli membuat kta merasa nyaman menjalani kehidupan. Abu2 buat saya adalah sebuah area dimana keputusan tidak diperlukan, yg jg berarti sebuah penundaan akan hasil akhir dr sebuah kesimpulan. Tentunya berjajar seimbang dengan adanya resiko yg sudah terkalkulasi dengan sangat cermat.

Sungguh sangat mudah mengkotak2kan sebuah peristiwa dan sebuah perbuatan dengan label boleh dan tidak boleh, atau benar dan salah. Disinilah persahabatan sesungguhnya di uji.

Sebagai manusia, kita selalu tau apakah yg kita jlni adalah sesuatu yg benar atau salah. Baik menurut hukum negara, agama, etika maupun adat istiadat yg berlaku. Ketidaknyamanan seringkli adalah indikator yg baik untuk mendeteksi hal ini. Tp seringkli kta tidak berani jujur pd diri sendiri sehingga hal lain akan menjadi fokus pembenaran dan menguatkan alasan2 logika.

Sebagai sahabat, saya percaya bahwa mengingatkan adalah sbuah kewajiban. Tp mendampingi dalam stiap peristiwa adalah suatu perjalanan yg sungguh tidak mudah. Terbukti banyak persahabatan tdk mampu melalui proses ini dengan baik.

Seringkli yg kita butuhkan bukan sebuah nasihat atau omelan, tp lbh kepada jaring pengaman. Lebih kepada keyakinan bahwa seseorang akan berada disana, menggandeng tangan kita dan tersenyum menenangkan bahwa segalanya akan baik2 saja. Walaupun seseorang itu tau apa yg kita lakukan salah/tdk baik, tp seseorang itu bersama kita. Berada disana pada saat terburuk dalam hidup kita, berada bersama kita pada titik terendah kehidupan dan menjalaninya bersama. Mungkin seseorang itu tidak menyetujui pilihan kita, tp mereka tetap ada disisi kita.

Dan saya berterima kasih pd mereka smua yg tinggal, pd saat2 terbaik sekaligus terburuk... Semoga saya pun mampu untuk tetap bersama kalian semua, pd saat terbaik sekaligus terburuk.

Thru the ups n downs it is *_*

Friday, January 22, 2010

s i l e n t

Its easy to judge people for what u see
The package smtimes meant to trick the eyes
The innocent face smtimes meant to win ur heart

Ever wonder what's in their heart?
What lays beneath the cheerfull laughter?
What's hidden inside their heart?
What they've been trying to tell u?

Have u ever really try to notice?

Or do u even care to look?

Really, its never what u think
Just listen, to every unspoken words, unspeakable thoughts

Listen, n those silent moments will reach ur heart
Where the purest voice been hiding
Where the honest soul is put to rest

Silent...

its been a while since my last writing...

sudah berulang kli klimat di atas ku ketik dan ku hapus, lagi dan lagi
setengah mati ku pikir dan ku rasa, tak satupun ada kata yg mengikuti kalimat itu
mati
diam
sepi

entah harus dr mana ku mulai sgala cerita yg bgitu sesak memenuhi jiwa
bertumpuk berjejal bersama sejuta tanya dan jwb yg seringkli tak terjabarkan
pendingin ruangan pun seolah membekukan jemariku di atas tuts keyboard
mematikan syaraf pikir dan rasa

dlm diam pun kepalaku seolah tak henti berputar
mengulang merekam menyesap dan berjuta kegiatan bergumul di dalamnya
seolah setiap peristiwa berjuang untuk jd pemenang
atas jwban dr peristiwa yg mengganggu hening hati dan pikir

sungguh,
saat ini aku tak ingin ada rasa ataupun pikir
tolong biarkan saja dunia berjalan apa adanya
jgn ganggu aku dan hibernasi panjang ini

atau mungkin perlu ku pasang tanda itu
dipintu kamar, atau di jidatku
supaya smua orang tau...

"jangan ganggu, aku dan adaku sedang hibernasi"

Thursday, January 21, 2010

Bleeding Love-nya Leona Lewis

Closed off from love
I didn't need the pain
Once or twice was enough
And it was all in vain
Time starts to pass
Before you know it you're frozen
But something happened
For the very first time with you
My heart melts into the ground
Found something true
And everyone's looking round
Thinking I'm going crazy
But I don't care what they say
I'm in love with you
They try to pull me away
But they don't know the truth
My heart's crippled by the vein
That I keep on closing
You cut me open and I
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
I keep bleeding
I keep, keep bleeding love
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
You cut me open
Trying hard not to hear
But they talk so loud
Their piercing sounds fill my ears
Try to fill me with doubt
Yet I know that the goal
Is to keep me from falling
But nothing's greater than the rush that comes with your embrace
And in this world of loneliness
I see your face
Yet everyone around me
Thinks that I'm going crazy, maybe, maybe
But I don't care what they say
I'm in love with you
They try to pull me away
But they don't know the truth
My heart's crippled by the vein
That I keep on closing
You cut me open and I
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
I keep bleeding
I keep, keep bleeding love
Keep bleeding
Keep, keep bleeding love
You cut me open
And it's draining all of me
Oh they find it hard to believe
I'll be wearing these scars
For everyone to see

---gw sukaaaaa bgt lagu ini---

Thursday, January 7, 2010

toleransi, masih adakah...?

Sudah setahun belakangan saya meninggalkan kesenangan saya menyetir mobil. Buat saya, kondisi duduk dibelakang kemudi dan mengendalikan kendaraan itu sungguh suatu kebebasan yg juara bgt. Kita bisa nyanyi keras2, cekikikan, ngoceh ga jelas tanpa ada yg komplen dan mengarahkan kendaraan kemanapun sesuka hati. Tapi kondisi jlnan ibukota yg semakin hari semakin bikin jidat saya berkerut bikin saya memilih duduk manis dan tidur pulas di kendaraan umum berpendingin. Setiap hari, rute yg sama, tapi pengalaman yg berbeda setiap kalinya.

Patas ac yg saya tumpangi setiap pagi umumnya mengangkut mereka yg berpakaian kerja dan 'tampak' berpendidikan. Kadang saya sedih jg melihat ada ibu/bapak yg sudah berumur dan ga kebagian tpt duduk. Kondisi ini sungguh ga mudah buat saya, mengingat waktu perjlnan berangkat yg 1jam dan pulang 2jam, memberikan tpt duduk saya dan berdiri sepanjang jln bener2 bikin badan luluh lantak. Walaupun ga selalu saya lakukan, tp saya usahakan untuk bisa melakukannya. Pernah sekali waktu saya berdiri dan menyediakan tpt duduk saya untuk seorang bapak yg sudah berumur dan kelihatan sulit menjaga keseimbangan, tp kemudian diduduki seorang laki2 yg masih muda. Spontan saya bilang; "mas, saya berdiri dan ngasih kursi untuk bapak itu, bukan untuk mas". Saya ga peduli klopun dia tersinggung, tp sumpah saya salut sama ketidakpedulian laki2 itu.

Seringkli patas ac yg saya tumpangi ga mau masuk ke jalur lambat seperti seharusnya. Jd kami para penumpang harus berjuang untuk bisa nyebrang jln dengan selamat. Kadang kami harus berdiri sekitar 5menit untuk menanti pengendara yg berbaik hati menginjak pedal rem dan memberi jln. Itupun ga bisa langsung nyelonong karena ada aja motor/mobil yg ttp ga mau berhenti. Saya pernah nggeplak pundak seorang pengendara motor saking jengkelnya. Bener2 gada toleransi bgt sama pejalan kaki, apalg sama yg ga bisa nyebrang jln kya saya.

Tiba di gedung perkantoran, lagi2 saya membatin. Mereka yg berpakaian keren mentereng, dengan jas dan dasi, rok mini dan stocking, ternyata ga ngerti etika mengantri dan bertoleransi. Sibuk bergerombol di depan pintu lift, bikin mereka yg keluar lift kesulitan dan terdesak. Atau ga peduli dan tetap menekan tombol 'tutup' walaupun ada orang yg tergopoh2 berlari untuk ikut naik lift. Seperti pengalaman saya kemarin, sudah jelas2 berdiri depan pintu lift yg hampir menutup, si bapak tetap menekan tombol tutup itu. Nyaris jatuh ngejeblak dagu saya, takjub atas kehebatan orang itu untuk tidak bertoleransi.

Ketakjuban saya akan kemampuan bertoleransi penduduk ibukota/Indonesia pun merembet pada hal lainnya.

Pasti banyak dari kita yg pernah menikmati berkendara lancar di bahu jalan bebas hambatan. Saya pun pernah, selain kaki bisa puas nginjak pedal gas sampe pol, adrenalin saya jg terpacu karena kecepatan tinggi yg berbanding dengan tingkat kesulitan mengemudi. Jadi saya mengerti kenapa banyak orang dengan sadar memilih lajur paling kiri untuk menghindari macetnya jalan yg harusnya bebas hambatan. Tp tolong diingat apabila lain kli berkendara dan lampu sen kiri dinyalakan untuk bergeser ke bahu jalan. Jalur itu hanya untuk kondisi darurat. Bayangkan kendaraan yg kta tumpangi mengalami kecelakaan, dan ambulans tidak bisa datang tepat waktu untuk menyelamatkan nyawa kta atau keluarga kta karna bahu jln dipenuhi kendaraan...

Belakangan, kendaraan menjadi sebuah tolak ukur kesuksesan seseorang dan akibatnya pendidikan mengenai aturan berkendara yg baik dan benar seringkli terabaikan. Sepupu saya malah pernah bilang, "orang2 sekarang ini SIM-nya bonus dari beli cemilan, makanya gada aturan".

Aturan yg berlaku buat para pengendara ga cuma soal aturan lalu lintas, tp jg soal kebersihan. Seringkli kta lihat mobil2 bermerk mahal buka jendela dan buang sampah tissue, bungkus permen dll. Sayang ya, mobil bagus ga seimbang sama mental supir dan penumpangnya... Bukan berarti yg naek kendaraan umum bebas lempar sampah loh ya, ga perlu ngomel klo orang lain buang sampah depan kta. Klo memang sdemikian pedulinya, ambil aja sampahnya dan buang ditempat sampah. Semoga si pembuang sampah sadar dan ga ngulangin 'ketidaksengajaan' buang sampah sembarangan.

Pernah dengar tentang sekumpulan warga negara asing yg rutin sweeping sampah setiap sabtu dan minggu di area monas dan senayan? Orang lain aja peduli, kenapa kta yg punya negara malah sibuk tutup mata?...

Anyway, mungkin saya yg salah, saya yg berharap terlalu tinggi dari mereka yg saya nilai berpendidikan (gada hubungan dengan tingkat edukasi ya, simply manner). Berulang kli hal sederhana bernama toleransi dan kepedulian ini terlihat sangat mahal dan bahkan semakin langka di kehidupan kita. Entah apa jadinya negara ini, yg dulu terkenal dengan negara yg penduduknya ramah dan saling toleransi... Mungkin harus spesifik ya mendeskripsikan dua hal tersebut, menjadi; ramah pada siapa dan toleransi sama apa.

Lagi2 saya merasa ga perlu teriak2 dan mengumpulkan masa untuk sekedar mengingatkan semua orang akan perlunya toleransi dan kepedulian akan banyak hal mendasar di sekitar kita. Hidup itu selalu adalah cermin, tempat kita berkaca dan belajar. Jgn sibuk tunjuk sanasini, cukup bercermin dan mulai memperbaiki diri sendiri.

Semoga dari satu orang akan melebar ke banyak orang dan menjadikan perubahan itu nyata adanya.