Thursday, January 20, 2011

Tuhan Maha Segala

Kata berpesta pora dalam kepalaku. Pertanyaan, bantahan, pembenaran, penyangkalan, sibuk berseteru di pagi beku.

Seringkali hatiku ciut atau bahkan biru membeku melihat usaha manusia menjalani hidup. Sungguh, tidak mudah. Berdasarkan artikel di majalah NatGeo edisi January 2011, penduduk bumi akan mencapai 7milyar di akhir tahun ini. Berarti akan semakin berkurangnya lahan pertanian, akan semakin sempitnya lahan hijau dan semakin tidak seimbangnya ekosistem sumber daya alam dunia. Dapat dipastikan, akan semakin banyak mereka yang terabaikan.

Begitu banyak tayangan di media yang ditujukan untuk menggugah empati masyarakat akan kondisi sosial yang nyata ada di sekitar kita. Dan apa yang telah benar-benar kita lakukan untuk itu? Tidak banyak, seringkali hanya tetesan airmata prihatin dan sebait kata; kasihan.

Kemudian sebagian dari kita marah, pada mereka yang mengatas namakan agama untuk kelangsungan hidup. Menjual doa dalam kendaraan umum, mengharap uluran tangan mereka yang hidup berlebih. Kemudian marah pada mereka, yang dengan tangan besi menuntun para mereka dengan luka di tubuh, mereka yang tidak terlahir sempurna dan anak kecil dengan sisa airmata di pipi, untuk duduk mengemis di penjuru kota dan menjemputnya di akhir hari. Tak perlulah dulu membahas tentang penggunaan hewan untuk kebutuhan mencari nafkah. Kalau kehidupan manusia sudah cukup sejahtera, barulah kita membahas tentang makhluk hidup lain yang berada di sekitarnya.

Belakangan diberitakan bahwa pengemis telah menjadi (semacam) profesi. Pemikiran ini telah menelurkan ide kepada beberapa teman untuk selalu menyediakan roti atau biskuit dalam tas/kendaraan, dengan harapan untuk dapat sedikit membantu dengan tidak memanjakan. Seringkali saya begitu sombong dan sulit untuk menghargai dan mengasihani mereka yang berusaha mencari nafkah di ruang jalan ibukota. Tidak semua orang terlahir dengan kemampuan tertentu, tidak semua bisa menyanyi dan bermain musik, tidak semua mampu berpuisi, dan tentunya kisah hidup dengan ancaman titel seorang mantan narapidana tidaklah akan membangkitkan empati.

Setiap usaha harus dihargai, itu tidak akan saya sangkal. Usaha membawakan lagu dengan baik, usaha untuk berpuisi dengan baik, usaha untuk memainkan alat musik dengan baik. Tapi sekali lagi, maaf, saya kesulitan berempati kepada mereka yang masuk ke dalam kendaraan umum ataupun warung-warung makan dengan bermodal bas betot ataupun kencrengan, kemudian sibuk membunyikan alat musiknya dengan tidak beraturan dan tidak mendendangkan apapun.

Kehidupan di ibukota sungguh sangat keras kawan. Entah dimana beradanya hati nurani, entah dimana singgahnya rasa kasih. Seringkali, hanya sebuah kesempatan yang membedakan nasib kita dengan lainnya. Siapapun pasti bisa berbuat lebih, kalau kesempatan itu ada dan dimanfaatkan dengan baik. Dan kesempatan tidak jatuh dari langit. Tidak ada hasil tanpa usaha, tidak ada gagal tanpa usaha, tidak ada sukses tanpa kegagalan.

Berhentilah menggantungkan harapan pada segala hal yang berada di luar kuasa kita (baca: institusi dll), mulailah kembalikan satu persatu pertanyaan itu kepada diri sendiri. Tidak perlu hal besar yang luar biasa. Sederhana saja. Saya yakin setiap agama dan kepercayaan menyuarakan untuk menyisihkan sebagian harta untuk mereka yang membutuhkan. Sudahkah kita lakukan ini? Bahwa dalam setiap hak kita, ada kewajiban yang menyertainya.

Dalam salah satu bukunya yang berjudul Fifth Mountain, Paulo Coelho menuliskan sebuah percakapan antara tokoh utama cerita (lagi-lagi, saya lupa nama tokahnya)dan seorang anak yang mempertanyakan keberadaan Tuhan ketika sebuah hal buruk/tidak diinginkan terjadi. Kutipan bebasnya; "Kalau Tuhan hanya memberikan hal baik, maka Ia hanyalah Maha Baik dan bukan Maha Segalanya".

Satu dan satu, perlahan dan konsisten, maka perubahan pun nyata ada dan terjadi.

No comments: