Tuesday, August 9, 2011

Laba-Laba

Mereka bilang sisi bumi yang ku tempati ini jenisnya tropis, dengan kelembaban tinggi. Hujan turun sepanjang waktu, walau tidak selalu datang dari langit, kadang menetes dari pucuk dedaunan. Berdetak-detik seperti jam besar di tempatmu berada.

Pada malam dunia terlukis di langit tanpa perlu ku gerakkan imaji, tergambar berkelap-kelip bagai senyum sejuta malaikat. Sungguh lebih meriah dari langit yang kau tatap kala merindu di gemerlap ibukota. Sehingga dunia bagimu pun kan lebih sering temaram, sembunyi di balik lembar kelabu langit kota.

Kaki-kakiku tampaknya takkan pernah cukup untuk susuri bumi, kadang malah aku diam di dahan rindang berpemandangan luar biasa, dari matahari ke matahari.
Ku tegakkan telinga dalam riuh suara alam, tajamkan indera tuk tangkap adanya. Ku pikir badai telah membuatnya terjebak di suatu tempat dan menghilangkan berjuta jejak yang ku buat, sehingga ia tak bisa menemukanku.

Selain itu, kaki-kaki kami terlalu ringkih, terulur gamang menggenggam bumi.
Sampai suatu hari, hembusan angin kencang itu membuatku terjatuh. Ya, ku pikir aku akan jatuh berdebam ke bumi, hancur luluh lantak sampai jadi debu. Tapi seketika tubuhku menghantam jalinan lembut, mungkin semacam sutra di tempatmu berada.
Kubuka mata dan mendapati sepasang mata menatapku dengan pandang yang tak mampu ku pahami. Tapi aku tau ia tersenyum.

"Kamu tidak apa-apa?", begitu sapanya. Kalimat sederhana yang membangunkan mati suriku.

Ternyata aku terlalu sibuk mencari dahan tertinggi, mendaki dan menajamkan inderaku hanya pada ia yang entah dimana, sehingga bahkan aku tak menyadari adanya yang menjalin benang demi benang, untuk kemudian menangkap jatuhku.

Dan kaki-kaki kami tak lagi terasa terlalu mungil di hadapan dunia. Bahkan mentari pun kemudian tak henti memancarkan gemerlap benang-benang yang tercipta dari kaki-kaki kecil kami. Bahkan butiran air yang terperangkap pun menjadikan hidupku, dan segalaku, sempurna.

No comments: